Monday, April 13, 2015 0 komentar

Secret Admirer

CHAPTER 2
Cast : Ranita Apriani
           Rama Airlangga
           Randyva Putra
Theme : Friendship, romance, life
.
.
.
             "Perasaan Bersalah"

Cklek...

Rani membuka pintu kamar barunya perlahan. Putih. Bersih. Rapi. Ternyata kamar ini siap pakai. Di letakkannya tas di lantai. Di telusurinya setiap bagian dari kamar barunya itu. Lumayan nyaman. Ia suka kamarnya ini. Hilang lah sudah kantuk yang di tahannya daritadi. Di sibaknya tirai yang menggantung depan jendela. Di bukanya jendela dengan perlahan. Udara segar Malang mulai masuk dan menjelajahi indra penciumannya. Ia suka tempat tinggal barunya ini. Sangat suka. Ia berpikir untuk mengajak papa mama nya kesini untuk bersantai.

Setelah selesai dengan perkenalan dengan udara Malang, kemudian ia berjalan lagi ke arah tasnya. Masih bingung apa yang harus di lakukannya. Lalu ia mengambil sepasang baju ganti kemudian menggantinya di dalam kamar mandi. Tidak lupa menyikat gigi dan mencuci wajahnya agar lebih segar. Bukan Rani namanya kalau tidak bersih. Setelah semuanya ia rasa cukup barulah ia tidur di atas ranjang barunya. Tidak lupa earphone dan iPodnya tidur bersamanya. Beginilah kebiasaan seorang Rani di siang hari. Tidur dan tidur. Dia paling tidak tahan apabila melihat bantal dan earphone dalam waktu yang bersamaan.

Berbeda dengan Randy. Ia sudah bermimpi indah di kamar barunya. Tidak peduli dengan keadaan di luar sana yang jelas dia ingin tidur dan beristirahat. Dia lelah dengan perjalanannya ini. Padahal jarak kalimantan dengan jawa tidak terlalu jauh kekeke. Randy memang suka berlebihan.

Lain halnya dengan Rama. Kini dia sibuk ngemil di depan tv. Di tontonnya kartun kesayangannya, Naruto, yang katanya seharusnya dia yang memerankan Sasuke. Whatever lah itu. Yang jelas Rama suka kartun itu. Sangat menyukainya. Kebiasaan bermalas-malasan dan ngemilnya ini memang sudah biasa dilakukannya. Namun yang mengherankan Rani adalah Rama tidak pernah gendut. Pernah suatu kali dia berkata kepada Rama

"Aku yang makan nasi aja udah naik sekilo, itu loh makanan pokok. Gimana mau ngemil, bisa-bisa timbangan gue rusak cuma gara-gara berat badan gue. Belum lagi perut gue yang mendadak buncit pfftt", kata Rani menyedihkan

"Nggak usah di pikirin napa. Berat lu itu udah bagus. Body lu itu udah oke. Mau diet kek gimana lagi sih. Udah lah, depan gue lu perfect kok", sahut Rama yang berhasil membuat pipi Rani merah seperti saus cabe. Jangan salahkan Rama, dia memang suka seperti itu kepada sahabat perepuannya itu.

"Rama gombal, malu tauuu", ujarnya cemberut lalu pergi dari hadapan Rama. Hahaha hanya seperti itu saja Rani sudah baper, pikir Rama.
.
.
.
.
.
Hari mulai sore. Perut Randy mulai demo minta di isi. Mau tidak mau ia harus membuka mata dan turun kebawah untuk mencari makanan yang ada. Di lihatnya hanya ada Rama yang tertidur dan tv yang masih menyala. Tumben udah sore masih tidur aja, pikirnya.

Di susurinya dapur untuk mencari makanan apa yang tersedia. Ia lupa bahwa sekarang ia berada di Malang dan itu berarti tidak ada Bi Inem dan harus memasak sendiri. Bukannya tidak bisa, tapi dia terlampau malas untuk masak sendiri. Harus ada yang memasakkannya makanan. Dia memutar otaknya. Ide evilnya datang dan langsung dia melesat ke atas dan menuju kamar Rani.

Tok tok tok tok

Tidak ada jawaban.

Tok tok tok tok

Hening.

Tok tok tok tok

"Iyaaaa"

Ting! Dewi fortuna berpihak padanya kali ini.

"Raaan, gue laperrr~", kata Randy manja

"Sama Ran gur juga, kamu mau beli makanan kah? Aku titip yaa", jawab Rani

Elaah gue kira lu paham nyet kode gue. Peka napa pekaaaa!

"Iya deh, mau makan apa?", tanya Randy. Dia memang tidak pandai mengabaikan sahabatnya ini. Poor Randy.

Cklek. Pintu kamar terbuka.

"Pengen soto lamongan plus jeruk nipisnya banyak-banyak yah", kata Rani

"Nggak. Kalo sotonya boleh tapi jeruknya cukup satu. Itupun harus pake kecap", sahut Randy

"Yaah Randy nggak enak tau kalo jeruknya cuma satu, lagian aku gak suka pake kecap kalo makan soto. Ayolah raaan, yah yah boleh yaa", kata Rani sedikit merengek

"Tapi maag mu-"

"Itu udah 6 bulan lalu Ran, I'm fine really!", kata Rani meyakinkan

"Cuma hari ini, besok-besok lu nggak boleh makan jeruk nipis lagi", ahirnya Randy pasrah. Kalau sudah Rani pasang tampang imut gitu siapa yang tahan buat ngelarang dia ini itu. Okelah Rani memang sedikit curang. Sedikit.

Akhirnya Randy turun dan menanyakan hal yang sama pada Rama.

"Lalapan aja Ran, kayanya enak", jawab Rama.

"Yaudah tunggu bentar ya", sahut Randy.
.
.
.
15 menit kemudian

"Ran makan. Entar soto lu dingin", teriak Randy dari bawah.

"Iya Rani turun"

"Rani minta soto lamongan lagi? Banyak nggak jeruknya? Berapa?", tanya Rama panjang lebar

"Biasalah kaya nggak tau Rani. Nggak, gue cuma kasih dua. Soalnya kalo gue kasih satu dia pasti ngambek sama gue", sahut Randy sambil memindahkan makanan mereka ke atas piring dan mangkuk. Tidak lupa mengambil minuman.

Rani turun dengan cepat menuju dapur dan langsung menuju kursinya. Diliatnya mangkuk berisi soto lamongan kesukaannya. Tergiur pada makanan, Rani pun langsung mengambi sendok dan mencicipi kuahnya.

"Eh, baca doa dulu", tegur Rama

"Eh iya lupa", jawab Rani cengengesan. Selesai baca doa, ia langsung memakan makanannya. Mulai dari mencicipi dan...

"Kok nggak asem? Ini jeruknya berapa Ran?", tanya Rani

"Dua", sahut Randy

"Kok dua? Tadi kan pesannya banyak", ujar Rani cemberut

"Dua kan juga bangak, lebih dari satu", jawab Rama. "Lagian entar maag mu kambuh kalau kebanyakan makan jeruk nipis, aku sama Randy udah janji sama mama mu buat jagain kamu", kata Rama menasehati Rani untuk tidak meminta yang macam-macam lagi.

"Iya deh iya. Maaf ya", ujar Rani sambil memasukkan satu sendok soto kesukaannya itu.

"Dah makan yuk, debatnya entar aja depan tv", ajak Randy

Akhirnya mereka makan dengan khidmat dan cepat. Maklum, efek jetleg #loh?. Setelah selesai, Rani mencuci gelas dan piring, Rama membersihkan meja, dan Randy membuang sampah. Mereka tahu tugas mereka masing-masing. Ya, kesadaran mereka cukup tinggi.
.
.
.
.
Selesai makan kemudian mereka sholat magrib berjamaah. Rama sebagai imamnya karena memang cita-citanya sebagai ustad. Setelah itu mereka mengambil barang-barang dalam mobil dan menyusunnya dalam rumah dan kamar. Setelah menurut mereka selesai dan rapi, barulah mereka bersantai kembali. Yah mereka belum memulai kuliah karena masih dalam masa liburan jadi wajar saja mereka masih bersantai-santai. Randy dan Rama duduk di depan tv, sedangkan Rani ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan. Kemudian ia kembali ke depan tv lagi.

"Tumben ngemil Ran", goda Randy

"Nggak kok ini buat kalian", jawab Rani santai

"Trus lu makan apa", tanya Rama penasaran

"Minum air putih udah bikin kenyang", sahut Rani santai, lagi.

"Elaah segitunya. Makan aja kali nggak usah diet segitunya juga. Mumpung liburan kan nggak apa berat badan naik dikit", kali ini gantian Rama yang menggoda.

"Makasih, tapi Rani udah kenyang makan tadi", Rani usaha membela pendiriannya

"Yakin nih nggak mau? Entar nyesal loh", goda Randy lagi

"Nggak, makasih ya", jawab Rani setenang mungkin

"Hahaha Rani mah gitu. Iyadah Ran kita aja yang habisin", kata Rama

"Hahahahaha", Randy puas tertawa malam ini

'Tahan Ran tahan, ini tuh godaan. Lagian lo mau liat badan lo bengkak kek gajah. Come on, wake up!' Batin Rani

'Teman gue nggak ada yang beres. Beruntung gue di kasih sahabat seperti mereka, nggak ada bosennya. Beda waktu gue kencan dengan cewe-cewe di luar sana. Allah' Batin Randy

'Segitunya ya Ran kamu harus diet? Maafin aku ya dulu pernah ngejek badan mu jelek. Tapi sebenarnya kamu cantik kok. Aku suka kamu yang apa adanya. Aku nggak tega liat kamu tersiksa gini. Maafin aku Rani, maafin aku' Batin Rama
.
.
.
.
.
.
.
TBC

Sunday, April 12, 2015 0 komentar

Secret Admirer

CHAPTER 1
Cast : Ranita Apriani
           Rama Airlangga
           Randyva Putra
Theme : Friendship, romance, life
.
.
.
             "Welcome Malang!"

Masa-masa SMA telah berakhir bagi siswa yang memakai seragam putih abu-abu. Masa yang nakal, kebersamaan, kebahagiaan, kesedihan, kesusahan, bahkan cinta mereka pun berakhir. Namun tidak bagi persahabatan tiga orang tersebut. Ya, dua laki-laki dan satu perempuan. Bukan karna mereka bersahabat dari kecil dan bersekolah di sekolah yang sama. Bahkan mereka berada di tiga pulau yang berbeda. Tidak percaya? Ya tapi itulah kenyataannya.

Randyva Putra Arya Jaya. Putra sulung dari keluarga Sanjaya. Dia lelaki yang tampan, mempunyai banyak uang, motor gede-nya yang selalu mengkilat, baik hati, tidak sombong dan 'sedikit' playboy. Ya, dia memang playboy. Bukan karna dia mencintai semua wanita atau haus akan sex. Dia orang yang taat beribadah. Hanya saja dia tidak tahan apabila berpacaran dengan wanita yang membosan kan. Siapa yang tahan coba?

Raden Gede Dwi Rama Airlangga. Putra kedua dari bapak dan ibu Raden. Dia bukan keturunan ningrat atau sebagainya. Keluarganya memang mempunyai embel 'Raden' pada setiap nama mereka. Dia sangat tampan, taat beribadah, baik hati, modis, pintar,  tidak sombong, ramah terhadap wanita, dan sangat menyanyangi ibunya. Calon imam yang baik bukan?

Ranita Apriani Farizda Herfina Putri. Cewe cantik nan manis dengan mata indah yang menjadi daya tarik tersendiri baginya. Dia cerdas, taat beribadah, taat pada orang tua, modis, baik hati, tidak sombong dan selalu ada dua pangeran yang menemaninya kemana pun dan kapan pun. Karna itu fakta selanjutnya adalah dia tidak memiliki teman cewe selain Kim. Dia bukan keturunan ningrat atau berasal dari keluarga kaya raya. Dia hanya anak kesayangan papa dan mama nya, pikirnya.
.
.
.
.
Author POV

Bandara Juanda, Surabaya 11.25PM

Banyak sekali orang-orang berlalu lalang. Ada yang hendak boarding, ada yang menunggu kedatangan, ada yang sibuk dengan kopernya, ada yang menawarkan jasa pengangkutan, dll. Namun tidak bagi tiga orang sahabat yang satu ini. Yeah mereka sedang berada di bandara yang sama dengan keadaan terpisah. Randy yang telah menunggu sekitar 30 menit masih setia duduk di salah satu cafe bandara yang ramai akan pengunjung hanya untuk dua sahabatnya yang terlampau lama datang daripada jalannya siput. Jadwal keberangkatannya memang lebih awal daripada kedua sahabat kesayangannya itu. Hingga androidnya berbunyi dan menampilkan pesan....

Line Group

From : Ranita 'cebel'
Aku udah landing, tinggal ambil koper. Kalian dimana?

From : Rama 'coex'
Aku juga baru landing. Rani ambil koper di line apa? Aku Garuda Indonesia Airlines

From : Ranita 'cebel'
Aku juga. Kamu pake baju apa? Aku baju peace celana hitam jilbab coklat tas coklat

From : Rama 'coex'
Gue semuanya hitam

From : Ranita 'cebel'
Oke mending lu balik, gue samping lu nyet

From : Randy 'upay'
Anjir ngakak bah hahahaha, oke gue  tunggu kalian di coffe cafe 15 menit lagi ya kalo ga datang gue tinggal

From : Rama 'coex'
Kamvret lu ran, sabar napa

From : Ranita 'cebel'
Iya sayang sabar yaa, nih koper ga ringan elah

Itulah cuplikan percakapan mereka di group entah udah yang keberapa kalinya mereka bertingkah konyol seperti itu. Hal itu sukses membuat Randy senyum-senyum sendiri. "Manusia rumit", katanya dalam hati.
.
Sesaat kemudia datang dua sahabat yang nampak kesusahan dan kelelahan membawa diri dan barang mereka. Mereka langsung masuk kedalam cafe dan mencari keberadaan Randy. Tanpa waktu lama mereka langsung menemukan Randy di pojok dekat dengan kaca jendela. Saat mereka telah duduk berhadapan, Randy langsung memberikan hot tiramisu latte kepada Rani dan hot capucino latte kepada Rama. Randy tau hal itu akan membuat sahabatnya senang kembali apabila ada minuman tersebut.

"Woah thank's bro, tau aja gue haus", kata Rama sambil menyambar minuman kesukaannya itu.

"Makasih Randy", kata Rani sambil nyengir menghadap Randy.

"Gue tau kalian capek makanya gue pesenin minuman kebanggaan kalian itu hehe", kata Randy

"Oh iya gimana kabar orang tua kalian?", tanya Rani membuka obrolan

"Alhamdulillah sehat, katanya salam buat Rani sama Randy juga", jawab Rama

"Waalaikumsalam", jawab Rani dan Randy serempak

"Orang tua ku juga sehat, kemarin mama lagi cek up kandungan. Doakan ade gue lahir selamat ya", kata Randy

"Jadi tante Anna hamil? Ciee yang jadi abang lagi haha gue sama Rama siap-siap jadi tante dan om dong"

"Iyanih haha gue doakan mama dan ade lo sehat wal afiat deh Ran. Banyak berdoa aja ya", kata Rama

"Iya makasih ya doanya. Ohiya kita nggak mau liat rumah baru nih? Udah bosan di bandara, yuk cus kita ke rumah", ajak Randy

"Iya deh iya. Maaf ya Ran udah nunggu lama", sahut Rani sedih

"Udah santai aja Ran, Randy mah udah biasa begitu", kata Rama sambil merangkul pundak sahabat wanitanya itu

"Hahaha becanda aja Ran, sumpah gue nggak marah. Mending gue nungguin kalian daripada harus kencan sama cewe-cewe di luar sana", kata Randy menenangkan Rani

"Yuk ah kita pergi. Gue nggak sabar liat rumah baru kita", kata Rama

Dan akhirnya mereka bertiga meninggalkan bandara menaiki mobil yang memang sudah di pindahkan papanya Randy ke Surabaya hanya untuk anak kesayangannya ini. See? Betapa beruntungnya Randy. Tapi mereka tidak tinggal di sini, melainkan di Malang. Tempat mereka nantinya tinggal bareng, makan bareng, belajar bareng, dan segalanya serba bareng.
.
.
.
.
Mobil putih itu terparkir di depan tumah tingkat berwarna putih dengan pagar hitam yang menambah minimalis rumah ini jika di lihat-lihat. Rama dan Randy turun dari mobil, sedangkan Rani masih terlelap di dalam mobil efek kelelahan yang di landa. "Bangunin Rani gih Ram, biar gue yang buka pintunya. Barang-barang nanti aja di angkut ke dalam. Gue masih capek banget", kata Randy menginterupsi Rama. "Sip, masuk gih duluan", jawab Rama. Dia berjalan ke arah mobil dan dibukanya pintu belakang yang di dalamnya terdapat Rani yang sedang terlelap kelelahan. Cantik. Imut. Polos. Itu yang ada di pikiran Rama melihat keadaan sahabatnya seperti ini.
'Saat seperti ini saja kau masih terlihat manis kekeke' batin Rama.

Kemudian dia membangunkan sahabatnya itu dengan sangat perlahan.
"Ran..Rani..bangun hey", ucap Rama pelan. Namun Rama bukan orang baru. Dia kenal betul kalau sudah begini pasti akan susah membangunkan cewe cantik yang cerewet ini.
"Ranitaaa...Ranitaaa...bangun sayang udah sampai rumaaah"
Tak mempan. Terpaksa cara lama.
"RANITA APRIANI FARIZDA HERFINA PUTRI"
Seketika mata Rani terbuka dan mendapati wajah Rama yang sedang kesal menatapnya. Polos Rani menjawab,"Iya?".
"Kau mau ku kunci dalam mobil atau sekarang bangun dan masuk kedalam rumah?", tanya Rama sabar. "Kita sudah sampai?", jawab Rani khas baru bangun
"Daritadi!", sahut Rama
"Oh. Oke", kemudian Rani turun dengan cepat dan meninggalkan Rama yang mengunci pintu mobil, takut dimarahi dan semacamnya buru-buru ia masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah Randy telah memberitahu letak-letak ruangan dan kamar mereka masing-masing. Tidak terlalu besar, namun minimalis dan cocok untuk mereka bertiga. Segala sesuatu sudah di urus papanya Randy sebelum mereka pindah. Jadi sekarang tinggal menikmati dan merawat rumah ini saja. Jangan takut akan bahaya yang terjadi pada Rani atu pikiran negatif terhadap Randy dan Rama. Mereka sangat menyayangi dan menjaga Rani. Mereka akan sangat protektif pada Rani, jadi tidak mungkin mereka mencelakakan Rani. See? Beruntungnya Rani memiliki dua pangeran yang sayang padanya.

"Gue mau lanjut tidur ya. Jadi gue ke atas. Kalau ada apa-apa ketuk aja pintunya", kata Rani memberitahu sahabatnya
.
.
.
.
.
TBC

A/n : maaf ya kalo ga jelas gitu ceritanya. Cuma iseng buat-buat cerita. Mudahan suka aja sih. No judge! No bash! Yang ga suka silahkan keluar :) Jangan lupa tinggalkan komen kamu ya, don't be silent readers :)

Friday, March 27, 2015 0 komentar

27!♥

Miss him so much!
Satu kalimat namun penuh arti bagi ku. Ya, sekarang waktu untuk kita berdua sudah terlalu minim. Kesibukan ku di organisasi dan keharusan belajarnya dalam menghadapi ujian nasional membuat waktu harian kita tersita untuk tugas ini itu dan sebagainya. Aku ngerti. It's ok! Gapapa lah dia sibuk dengan dunianya. Aku sebagai perempuan mempunyai peranan yang seharusnya memberinya support, bukan malah menambah beban pikirannya. Fokus belajar dan perbanyak ibadah sudah membuat ku senang karna kesepian ku terbalas karena keseriusannya dalam mengenyampingkan diriku. Karna di balik itu semua, aku yakin pasti akan ada hari dimana kita dapat bersama lagi. Dimana waktunya hanya dihabiskan oleh ku. Waktunya tersita karena kecerewetan ku. Waktunya terbuang hanya untuk menemani ku berjalan ria. Waktunya terlewatkan karena permintaan ku. Karena satu hal dalam dirinya itulah yg membuat ku mati-matian menahan tangis karena rindu. Waktu.
Selamat tanggal 27 sayang.
Love you♥

Saturday, March 7, 2015 0 komentar

Ketos, My Beloved Lava Cake

Assalamualaikum cantik...


Kali ini aku mau nge-share foto-foto aku bareng ketos waktu hiking buat ngeliat sunset.

0 komentar

Lama Tak Jumpa


Assalamualaikum cantik...


Udah lama nih ga nge-bloging. kalian semua apa kabar? Oiya akhir-akhir ini

Friday, August 1, 2014 0 komentar

Deer's Life




He was just a boy
Going to Korea
Without even knowing
Tuesday, July 29, 2014 0 komentar

Deer Boy

 


Hi you!

Long time no see, eoh? How are you there? Can I hear your voice again? I wish.
I have new bie now. Since that incident I began to close with the world. Don't ask, I'll always miss you. And after I finish my exams

Friday, April 4, 2014 0 komentar

Cewek itu...?

     Saat semua menjadi hitam, pertama kali yang ku lihat hanyalah sesosok lelaki bertubuh tinggi dengan wajah yang cukup bagiku. Dia adalah ka Bayu. Anehnya, saat itu keadaan menjadi rumit. Saat itu dia ikut berkelahi dengan seorang laki-laki

Monday, April 13, 2015

Secret Admirer

CHAPTER 2
Cast : Ranita Apriani
           Rama Airlangga
           Randyva Putra
Theme : Friendship, romance, life
.
.
.
             "Perasaan Bersalah"

Cklek...

Rani membuka pintu kamar barunya perlahan. Putih. Bersih. Rapi. Ternyata kamar ini siap pakai. Di letakkannya tas di lantai. Di telusurinya setiap bagian dari kamar barunya itu. Lumayan nyaman. Ia suka kamarnya ini. Hilang lah sudah kantuk yang di tahannya daritadi. Di sibaknya tirai yang menggantung depan jendela. Di bukanya jendela dengan perlahan. Udara segar Malang mulai masuk dan menjelajahi indra penciumannya. Ia suka tempat tinggal barunya ini. Sangat suka. Ia berpikir untuk mengajak papa mama nya kesini untuk bersantai.

Setelah selesai dengan perkenalan dengan udara Malang, kemudian ia berjalan lagi ke arah tasnya. Masih bingung apa yang harus di lakukannya. Lalu ia mengambil sepasang baju ganti kemudian menggantinya di dalam kamar mandi. Tidak lupa menyikat gigi dan mencuci wajahnya agar lebih segar. Bukan Rani namanya kalau tidak bersih. Setelah semuanya ia rasa cukup barulah ia tidur di atas ranjang barunya. Tidak lupa earphone dan iPodnya tidur bersamanya. Beginilah kebiasaan seorang Rani di siang hari. Tidur dan tidur. Dia paling tidak tahan apabila melihat bantal dan earphone dalam waktu yang bersamaan.

Berbeda dengan Randy. Ia sudah bermimpi indah di kamar barunya. Tidak peduli dengan keadaan di luar sana yang jelas dia ingin tidur dan beristirahat. Dia lelah dengan perjalanannya ini. Padahal jarak kalimantan dengan jawa tidak terlalu jauh kekeke. Randy memang suka berlebihan.

Lain halnya dengan Rama. Kini dia sibuk ngemil di depan tv. Di tontonnya kartun kesayangannya, Naruto, yang katanya seharusnya dia yang memerankan Sasuke. Whatever lah itu. Yang jelas Rama suka kartun itu. Sangat menyukainya. Kebiasaan bermalas-malasan dan ngemilnya ini memang sudah biasa dilakukannya. Namun yang mengherankan Rani adalah Rama tidak pernah gendut. Pernah suatu kali dia berkata kepada Rama

"Aku yang makan nasi aja udah naik sekilo, itu loh makanan pokok. Gimana mau ngemil, bisa-bisa timbangan gue rusak cuma gara-gara berat badan gue. Belum lagi perut gue yang mendadak buncit pfftt", kata Rani menyedihkan

"Nggak usah di pikirin napa. Berat lu itu udah bagus. Body lu itu udah oke. Mau diet kek gimana lagi sih. Udah lah, depan gue lu perfect kok", sahut Rama yang berhasil membuat pipi Rani merah seperti saus cabe. Jangan salahkan Rama, dia memang suka seperti itu kepada sahabat perepuannya itu.

"Rama gombal, malu tauuu", ujarnya cemberut lalu pergi dari hadapan Rama. Hahaha hanya seperti itu saja Rani sudah baper, pikir Rama.
.
.
.
.
.
Hari mulai sore. Perut Randy mulai demo minta di isi. Mau tidak mau ia harus membuka mata dan turun kebawah untuk mencari makanan yang ada. Di lihatnya hanya ada Rama yang tertidur dan tv yang masih menyala. Tumben udah sore masih tidur aja, pikirnya.

Di susurinya dapur untuk mencari makanan apa yang tersedia. Ia lupa bahwa sekarang ia berada di Malang dan itu berarti tidak ada Bi Inem dan harus memasak sendiri. Bukannya tidak bisa, tapi dia terlampau malas untuk masak sendiri. Harus ada yang memasakkannya makanan. Dia memutar otaknya. Ide evilnya datang dan langsung dia melesat ke atas dan menuju kamar Rani.

Tok tok tok tok

Tidak ada jawaban.

Tok tok tok tok

Hening.

Tok tok tok tok

"Iyaaaa"

Ting! Dewi fortuna berpihak padanya kali ini.

"Raaan, gue laperrr~", kata Randy manja

"Sama Ran gur juga, kamu mau beli makanan kah? Aku titip yaa", jawab Rani

Elaah gue kira lu paham nyet kode gue. Peka napa pekaaaa!

"Iya deh, mau makan apa?", tanya Randy. Dia memang tidak pandai mengabaikan sahabatnya ini. Poor Randy.

Cklek. Pintu kamar terbuka.

"Pengen soto lamongan plus jeruk nipisnya banyak-banyak yah", kata Rani

"Nggak. Kalo sotonya boleh tapi jeruknya cukup satu. Itupun harus pake kecap", sahut Randy

"Yaah Randy nggak enak tau kalo jeruknya cuma satu, lagian aku gak suka pake kecap kalo makan soto. Ayolah raaan, yah yah boleh yaa", kata Rani sedikit merengek

"Tapi maag mu-"

"Itu udah 6 bulan lalu Ran, I'm fine really!", kata Rani meyakinkan

"Cuma hari ini, besok-besok lu nggak boleh makan jeruk nipis lagi", ahirnya Randy pasrah. Kalau sudah Rani pasang tampang imut gitu siapa yang tahan buat ngelarang dia ini itu. Okelah Rani memang sedikit curang. Sedikit.

Akhirnya Randy turun dan menanyakan hal yang sama pada Rama.

"Lalapan aja Ran, kayanya enak", jawab Rama.

"Yaudah tunggu bentar ya", sahut Randy.
.
.
.
15 menit kemudian

"Ran makan. Entar soto lu dingin", teriak Randy dari bawah.

"Iya Rani turun"

"Rani minta soto lamongan lagi? Banyak nggak jeruknya? Berapa?", tanya Rama panjang lebar

"Biasalah kaya nggak tau Rani. Nggak, gue cuma kasih dua. Soalnya kalo gue kasih satu dia pasti ngambek sama gue", sahut Randy sambil memindahkan makanan mereka ke atas piring dan mangkuk. Tidak lupa mengambil minuman.

Rani turun dengan cepat menuju dapur dan langsung menuju kursinya. Diliatnya mangkuk berisi soto lamongan kesukaannya. Tergiur pada makanan, Rani pun langsung mengambi sendok dan mencicipi kuahnya.

"Eh, baca doa dulu", tegur Rama

"Eh iya lupa", jawab Rani cengengesan. Selesai baca doa, ia langsung memakan makanannya. Mulai dari mencicipi dan...

"Kok nggak asem? Ini jeruknya berapa Ran?", tanya Rani

"Dua", sahut Randy

"Kok dua? Tadi kan pesannya banyak", ujar Rani cemberut

"Dua kan juga bangak, lebih dari satu", jawab Rama. "Lagian entar maag mu kambuh kalau kebanyakan makan jeruk nipis, aku sama Randy udah janji sama mama mu buat jagain kamu", kata Rama menasehati Rani untuk tidak meminta yang macam-macam lagi.

"Iya deh iya. Maaf ya", ujar Rani sambil memasukkan satu sendok soto kesukaannya itu.

"Dah makan yuk, debatnya entar aja depan tv", ajak Randy

Akhirnya mereka makan dengan khidmat dan cepat. Maklum, efek jetleg #loh?. Setelah selesai, Rani mencuci gelas dan piring, Rama membersihkan meja, dan Randy membuang sampah. Mereka tahu tugas mereka masing-masing. Ya, kesadaran mereka cukup tinggi.
.
.
.
.
Selesai makan kemudian mereka sholat magrib berjamaah. Rama sebagai imamnya karena memang cita-citanya sebagai ustad. Setelah itu mereka mengambil barang-barang dalam mobil dan menyusunnya dalam rumah dan kamar. Setelah menurut mereka selesai dan rapi, barulah mereka bersantai kembali. Yah mereka belum memulai kuliah karena masih dalam masa liburan jadi wajar saja mereka masih bersantai-santai. Randy dan Rama duduk di depan tv, sedangkan Rani ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan. Kemudian ia kembali ke depan tv lagi.

"Tumben ngemil Ran", goda Randy

"Nggak kok ini buat kalian", jawab Rani santai

"Trus lu makan apa", tanya Rama penasaran

"Minum air putih udah bikin kenyang", sahut Rani santai, lagi.

"Elaah segitunya. Makan aja kali nggak usah diet segitunya juga. Mumpung liburan kan nggak apa berat badan naik dikit", kali ini gantian Rama yang menggoda.

"Makasih, tapi Rani udah kenyang makan tadi", Rani usaha membela pendiriannya

"Yakin nih nggak mau? Entar nyesal loh", goda Randy lagi

"Nggak, makasih ya", jawab Rani setenang mungkin

"Hahaha Rani mah gitu. Iyadah Ran kita aja yang habisin", kata Rama

"Hahahahaha", Randy puas tertawa malam ini

'Tahan Ran tahan, ini tuh godaan. Lagian lo mau liat badan lo bengkak kek gajah. Come on, wake up!' Batin Rani

'Teman gue nggak ada yang beres. Beruntung gue di kasih sahabat seperti mereka, nggak ada bosennya. Beda waktu gue kencan dengan cewe-cewe di luar sana. Allah' Batin Randy

'Segitunya ya Ran kamu harus diet? Maafin aku ya dulu pernah ngejek badan mu jelek. Tapi sebenarnya kamu cantik kok. Aku suka kamu yang apa adanya. Aku nggak tega liat kamu tersiksa gini. Maafin aku Rani, maafin aku' Batin Rama
.
.
.
.
.
.
.
TBC

Sunday, April 12, 2015

Secret Admirer

CHAPTER 1
Cast : Ranita Apriani
           Rama Airlangga
           Randyva Putra
Theme : Friendship, romance, life
.
.
.
             "Welcome Malang!"

Masa-masa SMA telah berakhir bagi siswa yang memakai seragam putih abu-abu. Masa yang nakal, kebersamaan, kebahagiaan, kesedihan, kesusahan, bahkan cinta mereka pun berakhir. Namun tidak bagi persahabatan tiga orang tersebut. Ya, dua laki-laki dan satu perempuan. Bukan karna mereka bersahabat dari kecil dan bersekolah di sekolah yang sama. Bahkan mereka berada di tiga pulau yang berbeda. Tidak percaya? Ya tapi itulah kenyataannya.

Randyva Putra Arya Jaya. Putra sulung dari keluarga Sanjaya. Dia lelaki yang tampan, mempunyai banyak uang, motor gede-nya yang selalu mengkilat, baik hati, tidak sombong dan 'sedikit' playboy. Ya, dia memang playboy. Bukan karna dia mencintai semua wanita atau haus akan sex. Dia orang yang taat beribadah. Hanya saja dia tidak tahan apabila berpacaran dengan wanita yang membosan kan. Siapa yang tahan coba?

Raden Gede Dwi Rama Airlangga. Putra kedua dari bapak dan ibu Raden. Dia bukan keturunan ningrat atau sebagainya. Keluarganya memang mempunyai embel 'Raden' pada setiap nama mereka. Dia sangat tampan, taat beribadah, baik hati, modis, pintar,  tidak sombong, ramah terhadap wanita, dan sangat menyanyangi ibunya. Calon imam yang baik bukan?

Ranita Apriani Farizda Herfina Putri. Cewe cantik nan manis dengan mata indah yang menjadi daya tarik tersendiri baginya. Dia cerdas, taat beribadah, taat pada orang tua, modis, baik hati, tidak sombong dan selalu ada dua pangeran yang menemaninya kemana pun dan kapan pun. Karna itu fakta selanjutnya adalah dia tidak memiliki teman cewe selain Kim. Dia bukan keturunan ningrat atau berasal dari keluarga kaya raya. Dia hanya anak kesayangan papa dan mama nya, pikirnya.
.
.
.
.
Author POV

Bandara Juanda, Surabaya 11.25PM

Banyak sekali orang-orang berlalu lalang. Ada yang hendak boarding, ada yang menunggu kedatangan, ada yang sibuk dengan kopernya, ada yang menawarkan jasa pengangkutan, dll. Namun tidak bagi tiga orang sahabat yang satu ini. Yeah mereka sedang berada di bandara yang sama dengan keadaan terpisah. Randy yang telah menunggu sekitar 30 menit masih setia duduk di salah satu cafe bandara yang ramai akan pengunjung hanya untuk dua sahabatnya yang terlampau lama datang daripada jalannya siput. Jadwal keberangkatannya memang lebih awal daripada kedua sahabat kesayangannya itu. Hingga androidnya berbunyi dan menampilkan pesan....

Line Group

From : Ranita 'cebel'
Aku udah landing, tinggal ambil koper. Kalian dimana?

From : Rama 'coex'
Aku juga baru landing. Rani ambil koper di line apa? Aku Garuda Indonesia Airlines

From : Ranita 'cebel'
Aku juga. Kamu pake baju apa? Aku baju peace celana hitam jilbab coklat tas coklat

From : Rama 'coex'
Gue semuanya hitam

From : Ranita 'cebel'
Oke mending lu balik, gue samping lu nyet

From : Randy 'upay'
Anjir ngakak bah hahahaha, oke gue  tunggu kalian di coffe cafe 15 menit lagi ya kalo ga datang gue tinggal

From : Rama 'coex'
Kamvret lu ran, sabar napa

From : Ranita 'cebel'
Iya sayang sabar yaa, nih koper ga ringan elah

Itulah cuplikan percakapan mereka di group entah udah yang keberapa kalinya mereka bertingkah konyol seperti itu. Hal itu sukses membuat Randy senyum-senyum sendiri. "Manusia rumit", katanya dalam hati.
.
Sesaat kemudia datang dua sahabat yang nampak kesusahan dan kelelahan membawa diri dan barang mereka. Mereka langsung masuk kedalam cafe dan mencari keberadaan Randy. Tanpa waktu lama mereka langsung menemukan Randy di pojok dekat dengan kaca jendela. Saat mereka telah duduk berhadapan, Randy langsung memberikan hot tiramisu latte kepada Rani dan hot capucino latte kepada Rama. Randy tau hal itu akan membuat sahabatnya senang kembali apabila ada minuman tersebut.

"Woah thank's bro, tau aja gue haus", kata Rama sambil menyambar minuman kesukaannya itu.

"Makasih Randy", kata Rani sambil nyengir menghadap Randy.

"Gue tau kalian capek makanya gue pesenin minuman kebanggaan kalian itu hehe", kata Randy

"Oh iya gimana kabar orang tua kalian?", tanya Rani membuka obrolan

"Alhamdulillah sehat, katanya salam buat Rani sama Randy juga", jawab Rama

"Waalaikumsalam", jawab Rani dan Randy serempak

"Orang tua ku juga sehat, kemarin mama lagi cek up kandungan. Doakan ade gue lahir selamat ya", kata Randy

"Jadi tante Anna hamil? Ciee yang jadi abang lagi haha gue sama Rama siap-siap jadi tante dan om dong"

"Iyanih haha gue doakan mama dan ade lo sehat wal afiat deh Ran. Banyak berdoa aja ya", kata Rama

"Iya makasih ya doanya. Ohiya kita nggak mau liat rumah baru nih? Udah bosan di bandara, yuk cus kita ke rumah", ajak Randy

"Iya deh iya. Maaf ya Ran udah nunggu lama", sahut Rani sedih

"Udah santai aja Ran, Randy mah udah biasa begitu", kata Rama sambil merangkul pundak sahabat wanitanya itu

"Hahaha becanda aja Ran, sumpah gue nggak marah. Mending gue nungguin kalian daripada harus kencan sama cewe-cewe di luar sana", kata Randy menenangkan Rani

"Yuk ah kita pergi. Gue nggak sabar liat rumah baru kita", kata Rama

Dan akhirnya mereka bertiga meninggalkan bandara menaiki mobil yang memang sudah di pindahkan papanya Randy ke Surabaya hanya untuk anak kesayangannya ini. See? Betapa beruntungnya Randy. Tapi mereka tidak tinggal di sini, melainkan di Malang. Tempat mereka nantinya tinggal bareng, makan bareng, belajar bareng, dan segalanya serba bareng.
.
.
.
.
Mobil putih itu terparkir di depan tumah tingkat berwarna putih dengan pagar hitam yang menambah minimalis rumah ini jika di lihat-lihat. Rama dan Randy turun dari mobil, sedangkan Rani masih terlelap di dalam mobil efek kelelahan yang di landa. "Bangunin Rani gih Ram, biar gue yang buka pintunya. Barang-barang nanti aja di angkut ke dalam. Gue masih capek banget", kata Randy menginterupsi Rama. "Sip, masuk gih duluan", jawab Rama. Dia berjalan ke arah mobil dan dibukanya pintu belakang yang di dalamnya terdapat Rani yang sedang terlelap kelelahan. Cantik. Imut. Polos. Itu yang ada di pikiran Rama melihat keadaan sahabatnya seperti ini.
'Saat seperti ini saja kau masih terlihat manis kekeke' batin Rama.

Kemudian dia membangunkan sahabatnya itu dengan sangat perlahan.
"Ran..Rani..bangun hey", ucap Rama pelan. Namun Rama bukan orang baru. Dia kenal betul kalau sudah begini pasti akan susah membangunkan cewe cantik yang cerewet ini.
"Ranitaaa...Ranitaaa...bangun sayang udah sampai rumaaah"
Tak mempan. Terpaksa cara lama.
"RANITA APRIANI FARIZDA HERFINA PUTRI"
Seketika mata Rani terbuka dan mendapati wajah Rama yang sedang kesal menatapnya. Polos Rani menjawab,"Iya?".
"Kau mau ku kunci dalam mobil atau sekarang bangun dan masuk kedalam rumah?", tanya Rama sabar. "Kita sudah sampai?", jawab Rani khas baru bangun
"Daritadi!", sahut Rama
"Oh. Oke", kemudian Rani turun dengan cepat dan meninggalkan Rama yang mengunci pintu mobil, takut dimarahi dan semacamnya buru-buru ia masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah Randy telah memberitahu letak-letak ruangan dan kamar mereka masing-masing. Tidak terlalu besar, namun minimalis dan cocok untuk mereka bertiga. Segala sesuatu sudah di urus papanya Randy sebelum mereka pindah. Jadi sekarang tinggal menikmati dan merawat rumah ini saja. Jangan takut akan bahaya yang terjadi pada Rani atu pikiran negatif terhadap Randy dan Rama. Mereka sangat menyayangi dan menjaga Rani. Mereka akan sangat protektif pada Rani, jadi tidak mungkin mereka mencelakakan Rani. See? Beruntungnya Rani memiliki dua pangeran yang sayang padanya.

"Gue mau lanjut tidur ya. Jadi gue ke atas. Kalau ada apa-apa ketuk aja pintunya", kata Rani memberitahu sahabatnya
.
.
.
.
.
TBC

A/n : maaf ya kalo ga jelas gitu ceritanya. Cuma iseng buat-buat cerita. Mudahan suka aja sih. No judge! No bash! Yang ga suka silahkan keluar :) Jangan lupa tinggalkan komen kamu ya, don't be silent readers :)

Friday, March 27, 2015

27!♥

Miss him so much!
Satu kalimat namun penuh arti bagi ku. Ya, sekarang waktu untuk kita berdua sudah terlalu minim. Kesibukan ku di organisasi dan keharusan belajarnya dalam menghadapi ujian nasional membuat waktu harian kita tersita untuk tugas ini itu dan sebagainya. Aku ngerti. It's ok! Gapapa lah dia sibuk dengan dunianya. Aku sebagai perempuan mempunyai peranan yang seharusnya memberinya support, bukan malah menambah beban pikirannya. Fokus belajar dan perbanyak ibadah sudah membuat ku senang karna kesepian ku terbalas karena keseriusannya dalam mengenyampingkan diriku. Karna di balik itu semua, aku yakin pasti akan ada hari dimana kita dapat bersama lagi. Dimana waktunya hanya dihabiskan oleh ku. Waktunya tersita karena kecerewetan ku. Waktunya terbuang hanya untuk menemani ku berjalan ria. Waktunya terlewatkan karena permintaan ku. Karena satu hal dalam dirinya itulah yg membuat ku mati-matian menahan tangis karena rindu. Waktu.
Selamat tanggal 27 sayang.
Love you♥

Saturday, March 7, 2015

Ketos, My Beloved Lava Cake

Assalamualaikum cantik...


Kali ini aku mau nge-share foto-foto aku bareng ketos waktu hiking buat ngeliat sunset.

Lama Tak Jumpa


Assalamualaikum cantik...


Udah lama nih ga nge-bloging. kalian semua apa kabar? Oiya akhir-akhir ini

Friday, August 1, 2014

Deer's Life




He was just a boy
Going to Korea
Without even knowing

Tuesday, July 29, 2014

Deer Boy

 


Hi you!

Long time no see, eoh? How are you there? Can I hear your voice again? I wish.
I have new bie now. Since that incident I began to close with the world. Don't ask, I'll always miss you. And after I finish my exams

Friday, April 4, 2014

Cewek itu...?

     Saat semua menjadi hitam, pertama kali yang ku lihat hanyalah sesosok lelaki bertubuh tinggi dengan wajah yang cukup bagiku. Dia adalah ka Bayu. Anehnya, saat itu keadaan menjadi rumit. Saat itu dia ikut berkelahi dengan seorang laki-laki

 
;